09 Juli 2009

Bisnis Keluarga dan Profesionalisme

0 komentar
Profesionalisme merupakan salah satu bentuk code of conduct dalam menjalankan bisnis. Dengan profesionalisme, kita menjalankan bisnis secara disiplin, berkomitmen tinggi, bertanggung jawab dan penuh integritas. Namun dalam bisnis keluarga, sering kita menganggap sepele banyak hal, bahkan mengesampingkan profesionalisme.

Salah satunya adalah tidak membedakan antara aset pribadi dengan aset perusahaan. Bahkan sering melakukan prive keuangan perusahaan untuk kepentingan pribadi. Gwe pernah bekerja di sebuah family business dimana sering terjadi uang perusahaan menjadi defisit hanya karena dipakai untuk trip jalan-jalan keluar negeri, untuk beli mobil baru, dan hal-hal lainnya yang tidak berkaitan samasekali dengan kepentingan perusahaan.

Mungkin banyak yang berkata: "Hey, it's my own company. I can do anything I want to the company." Well that will only come from a really shallow minded person. Jika cara berpikirnya seperti itu, gwe percaya bisnis tersebut masih mungkin sukses, tapi yang pasti tidak akan berkembang, dan akan mencapai suatu titik dimana perusahaan sudah tidak mampu berkembang lagi. It will affect the way your employees think about you too. I know I did.

Coach business Botte pernah bercerita tentang sebuah family business, dimana perusahaan tersebut sedang diambang kebangkrutan. Setelah melakukan analisa, ternyata penyakitnya adalah terlalu banyak family member yang ikut campur di perusahaan tersebut. Everybody have their own agenda, dan tidak terlalu banyak memikirkan kepentingan perusahaan. Apa solusinya? Memecat beberapa anggota keluarga dari bisnis tersebut, dan diberikan bagian saham. Hasilnya? Dalam tahun pertama saja perusahaan sudah membukukan laba, tidak jadi bangkrut dan karyawan tidak jadi di PHK.

Mungkin kalau saya ngomongin tentang perusahaan melulu kelihatannya muluk-muluk banget. Gwe ada cerita lagi tentang bisnis warteg. Jadi ketika itu my dad's driver ingin meminjam uang di bank untuk membuka warteg. My dad kerja di sebuah bank yang mandiri itu di divisi kredit UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah). Namun karena orang itu tidak punya asset apa pun (rumah masih ngontrak, motor dipinjemin bokap), maka my dad memberikan soft loan dari uang pribadi. Ketika ditanya apakah punya tempat, dia berkata kalau rencananya memanfaatkan space kosong di rumah saudaranya secara gratis. My mom yang seorang ekonom dan sangat berhati-hati dalam berinvestasi bertanya apakah saudaranya okay with that, dan tidak akan ada masalah nantinya? Dia jawab kalau saudaranya sudah setuju dan tidak masalah jika space rumahnya dipakai untuk jualan.

Tiga bulan berlalu, dan ternyata bisnis wartegnya berjalan dengan sangat baik, laku keras dan profitable. Tapi apa yang terjadi? Saudara sopir itu mengklaim warteg itu, karena warteg itu ada di rumah saudaranya itu. Alhasil, driver itu tidak dapat mengembalikan uang yang dipinjamnya. Masih untung minjamnya di my dad, bayangkan kalau minjam ke bank, apa ngga bakalan tambah merana tuh orang.

So you see, usahakan semua yang kalian lakukan kalau berurusan dengan bisnis adalah profesional. Ingat bahwa uang ngga kenal saudara. Bahkan ada anak yang membunuh ayahnya supaya dia cepat duduk di kursi CEO. Hitam di atas putih sangat penting, jangan anggap sepele segala sesuatunya.

Gwe dulu waktu jaman kuliah pernah membuat perusahaan kecil bertiga, gwe sebagai programmer, satu teman sebagai desainer, dengan satu orang di Jerman sebagai salesnya. Dealnya adalah keuntungan dibagi tiga. Proyek-proyek yang kita dapatkan semuanya dari Jerman dan dibayar Euro. It was a complete success, karena dalam 6 bulan pertama saja I have made Euro 3.600. A hefty amount of money considering masih jaman-jaman kuliah dulu.

Semua berjalan dengan baik sampai suatu saat kami berdua yang di Jakarta menyadari bahwa invoice yang sales tunjukkan ke kita berbeda dengan yang diberikan kliennya langsung. Dia bilang bahwa invoicenya sebesar Euro 2.500, sedangkan kami menemukan bahwa dia sebenarnya menginvoice kliennya Euro 5.500. Jadi saya dan rekan saya hanya mendapatkan Euro 800++ each, sedangkan dia mendapatkan Euro 3.800. Setelah kita konfrontasi, dia bilang bahwa biaya hidup di Jerman mahal. The hell, memangnya kita bikin kantor di Jakarta juga ngga pake biaya? Dealnya waktu itu biaya di Jakarta kita tanggung sendiri, dan biaya di Jerman ditanggung oleh dia sendiri (note bahwa dia juga freelancer, bukan bekerja di kantor, jadi more or less biayanya adalah transportasi dan ngeprint-ngeprint saja).

Bisakah kita klaim sisa uang yang sudah dia tilep? Ngga. Karena tidak ada hitam di atas putihnya. Everything was verbal, and because he was our friend, dan gwe juga pernah ketemu nyokapnya yang seorang direktris perusahaan multinasional yang notabene baik buanget (first impressionnya sangat melekat banget di gue), gwe ngga nyangka dia sebagai anaknya bertolak belakang 180 derajat. Alhasil we go our own separate ways, and we left him with angry clients (and angry partners too!). Gosipnya, he had to maintain his girlfriend yang naik mobilnya aja Ferrari. Blah.

Well, seperti curcol ya, but those are facts, dan walau bukan bisnis keluarga, tapi ya masih berlaku juga. Gwe pernah baca di suatu artikel yang berbunyi demikian:
Kesalahan terbesar para pengusaha dan wiraswastawan adalah dia tidak menggaji dirinya sendiri!
Don't make the same mistake. If you really love the company you own, then be professional. Ingat bahwa karyawan elo adalah orang yang akan membantu elo mencapai kesuksesan. Jika karyawan elo menganggap elo semena-mena, tidak profesional, dan mempermainkan keuangan perusahaan, maka mereka tidak akan bisa benar-benar bekerja 100% untuk elo, dan alhasil elo sendiri tidak akan mencapai kesuksesan yang ingin diraih. Camkan itu.