Adheaven - Webpreneur, Futurist and Technologist

The official Natali Ardianto blog

31 May 2009

Kengerian dunia online dimulai

Ngeri. Itu yang terbesit di pikiran gwe ketika tahu bahwa orang yang menulis keluhan di Internet bisa memiliki probabilitas dipenjara lebih besar daripada nulis keluhan di surat kabar. Ya gara-gara UU ITE itu.

Sekarang lagi naik daun yang namanya RS Omni ini, karena baru memenangkan kasus perdata terhadap ibu Prita, dan berhasil memenjarakan bu Prita sejak 13 Mei yll untuk tuntutan pidananya (sedang menunggu sidang). Kasusnya sih sepele banget. Bu Prita komplain tentang servis RS Omni. Kesalahannya? Bu Prita (awalnya) menulisnya ke milis. Bak viral marketing, tulisan Bu Prita menyebar ke seantero jagat Internet.

Sebagai orang yang doyan digital marketing, gwe pikir cara yang ditempuh RS Omni dengan menuntut Bu Prita merupakan strategi PR yang buruk sekali. Ya mungkin mereka telah memenangkan tuntutan hukumnya, tapi tinggal tunggu efek dominonya. Dunia online tidak akan menyukainya. Publik akan melakukan "sanksi sosial".

Kalau di lihat keyword "RS Omni Prita" di Google sekarang sudah mencapai 1040 result search. Tunggu beberapa hari lagi deh, bakalan membengkak multiple times. Sayangnya, dari result search tersebut tidak ada yang positif untuk RS Omni. Apesnya lagi ya keyword RS Omni di Google bakalan "tercemar" oleh kasus Prita ini. The hell, waktu gwe search keyword RS Omni, ternyata banyak juga anggota masyarakat lain yang komplain. Nah kalau gwe saja mulai ngulik-ngulik keyword RS Omni di Google, sudah dipastikan orang lain juga melakukan hal yang sama, dan opini publik akan terbentuk semakin kuat.

Halooo RS Omni. What you've just created is FEAR. No one likes intimidation. Jika diredam dengan respon yang cool and concise, mungkin efeknya tidak akan sebesar nanti ini.
Jangan koyak sarang lebah untuk mendapatkan madunya.
Sialan nieh UU ITE (especially pasat 27 ayat 3 CMIIW). Mana kalah pula di Mahkamah Konstitusi. Apa yang dikatakan pak Nuh di Pesta Blogger 2008 yang lalu menjadi sia-sia. FEAR telah diciptakan. Dunia online sudah tidak sama seperti dulu lagi. Menulis sesuatu yang sedikit saja negatif harus mikir beribu-ribu kali, walau pun tulisan negatif itu merupakan fakta. Udah gitu pasal karet "pencemaran nama baik" udah gampang banget di interpretasikan macem-macemnya. Udah ngga sesuai dengan tujuan awal deh.

Sial nieh, batere B****** gwe gampang banget ngedrop, jelek banget nieh baterenya - PENJARA 6 tahun dan denda 1 milyar karena pencemaran nama baik.

Beh kemarin makan di S**** wajah waitresnya asem banget kaga ada senyumnya - PENJARA 6 tahun dan denda 1 milyar karena penghinaan.

Horee gwe udah dapet HP baru. Tapi koq kabel datanya ngga ada ya, kata di boksnya dapet koq - PENJARA 6 tahun dan denda 1 milyar karena menyebar fitnah.

Welcome to a new kind of FEAR.

Note:
  • Isi UU ITE pasal 27 ayat 3: "Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik."
  • Isi UU ITE pasal 45 Ayat (1) UU ITE, pelanggaran terhadap ketentuan tersebut diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak Rp 1 miliar.
  • Tidak peduli apakah surat pembaca yang ditulis Prita itu benar atau tidak, jika menghina ya terkena pasal 27 ayat 3 ini karena intinya bu Prita menghina institusi tersebut. Titik!

Create Post

18 May 2009

Bersyukur dan Menjadi yang Terbaik

Coba visualisasikan ini:
Kamu punya banyak tanah di berbagai daerah. Punya rumah yang besar. Punya banyak mobil. Suatu saat, elo dikasih sebuah mobil. Apakah kamu akan bersyukur mendapatkannya?
TIDAK. Seseorang baru bisa bersyukur jika dalam kekurangannya dia bisa mendapatkan lebih. Gwe sebagai orang Jawa sudah terbiasa dengan bersyukur, walau dalam kesulitan apa pun. Jatuh dari tangga? Syukur ngga patah kaki. Ketimpa tangga? Syukur tangganya ngga berat. Wakakaks yang ini just kidding.

Inilah intisari yang gwe dapet dari kata-kata Mario Teguh di TV tadi malem jam 8. Satu lagi yang benar-benar nempel di otak gwe:
Siapakah dari kalian yang merasa kalian pantas digaji lebih besar dari yang kalian dapatkan sekarang?
Sejumlah besar orang mengangkat tangannya. Sekarang pertanyaan berikutnya:
Apakah performa kalian dalam bekerja "disesuaikan" dengan gaji yang kalian terima, atau kalian tetap memberikan yang terbaik dari diri kalian?
 Beberapa orang tampak tertegun. Ya, itu masalahnya dengan orang Indonesia pada umumnya. Mereka kerja untuk mencari uang. Padahal, sesuai dengan yang coach Getty dari Action Coach bilang, "If we do our best, the money will come by itself." Terkadang kita pikir, buat apa gwe melakukan ini semua kalau company *tampaknya* tidak menghargai gue?

Hey, gwe percaya banget dengan hukum Newton I, yaitu hukum kekekalan energi. Apa yang kalian keluarkan, akan setara dengan apa yang kalian terima. Ada saja cara nantinya Tuhan membalas usaha kalian, misalnya nih:
  1. Perusahaan melihat elo perform bagus, ya gaji dinaikin.
  2. Perusahaan lain melihat perform elo, ya elo diajak gabung.
  3. Elo direferensiin oleh teman ke sebuah perusahaan untuk mengerjakan freelance job, dan hey, tahu-tahu diajak bergabung.
  4. Masih banyak cara misterius lainnya yang elo ngga bakalan nyangka sebelumnya. Intinya elo jangan takut deh ngga ada yang merhatiin kinerja elo. Ini yang namanya personal branding. If you have a good brand, everybody would want a piece of you. Trust me in this.
note: Tiga poin pertama di atas pernah gwe lalui lho.

Gwe pernah dapet bayaran Rp 50.000 untuk sebuah website flash. Gaji pertama gwe kerja kantoran beneran cuma Rp 1,5 juta. Gwe pernah kerja ngga digaji 6 bulan. Gwe pernah gajinya diturunkan karena antara CEO sama GM ngga sinkron (GM naikin, 2 bulan kemudian CEO turunin :P). Gwe pernah kerja senin sampai sabtu, dari jam 9 sampai jam 6 sore, for 8 months, and I was married and had a kid. Apakah gwe komplain? Damn hell yeah :P Tapi gwe tidak menurunkan standar gwe.

Waktu gwe kerja pertama kali sebagai instruktur dengan gaji 1,5 tadi, gwe selalu peringkat 1 atau 2 dari pernilaian peserta tentang cara ngajar, materi ngajar, komunikasi di dalam dan luar kelas dan berbagai poin-poin lainnya. I was straight A's (with a little B here and there hehehe). Ketika gwe resign, gaji gwe sudah satu level dibawah manager instruktur, surpassing other instructor yang bahkan ada yang sudah kerja 10 tahun lebih.

Walaupun gwe ngga digaji 6 bulan, tapi gwe melakukan yang terbaik untuk memenangkan tender dengan bolak-balik ngurus tender ke Cirebon, Tegal, Bali, dan menghasilkan dokumen tender dengan jumlah kertas lebih dari 5 rim (that's 2500++ sheets of paper!) dan terkadang masih di kantor jam 5 pagi, even on saturday and sunday, gelap-gelapan karena listrik gedung dimatikan kalau sudah lewat jam 6 sore, dan turun tangga dari lantai 12 karena lift sudah dimatikan.

 Sekarang gwe tanya lagi: Have you give your best for your current company?

Create Post