Bersyukur dan Menjadi yang Terbaik
Coba visualisasikan ini:
Kamu punya banyak tanah di berbagai daerah. Punya rumah yang besar. Punya banyak mobil. Suatu saat, elo dikasih sebuah mobil. Apakah kamu akan bersyukur mendapatkannya?TIDAK. Seseorang baru bisa bersyukur jika dalam kekurangannya dia bisa mendapatkan lebih. Gwe sebagai orang Jawa sudah terbiasa dengan bersyukur, walau dalam kesulitan apa pun. Jatuh dari tangga? Syukur ngga patah kaki. Ketimpa tangga? Syukur tangganya ngga berat. Wakakaks yang ini just kidding.
Inilah intisari yang gwe dapet dari kata-kata Mario Teguh di TV tadi malem jam 8. Satu lagi yang benar-benar nempel di otak gwe:
Siapakah dari kalian yang merasa kalian pantas digaji lebih besar dari yang kalian dapatkan sekarang?Sejumlah besar orang mengangkat tangannya. Sekarang pertanyaan berikutnya:
Apakah performa kalian dalam bekerja "disesuaikan" dengan gaji yang kalian terima, atau kalian tetap memberikan yang terbaik dari diri kalian?Beberapa orang tampak tertegun. Ya, itu masalahnya dengan orang Indonesia pada umumnya. Mereka kerja untuk mencari uang. Padahal, sesuai dengan yang coach Getty dari Action Coach bilang, "If we do our best, the money will come by itself." Terkadang kita pikir, buat apa gwe melakukan ini semua kalau company *tampaknya* tidak menghargai gue?
Hey, gwe percaya banget dengan hukum Newton I, yaitu hukum kekekalan energi. Apa yang kalian keluarkan, akan setara dengan apa yang kalian terima. Ada saja cara nantinya Tuhan membalas usaha kalian, misalnya nih:
- Perusahaan melihat elo perform bagus, ya gaji dinaikin.
- Perusahaan lain melihat perform elo, ya elo diajak gabung.
- Elo direferensiin oleh teman ke sebuah perusahaan untuk mengerjakan freelance job, dan hey, tahu-tahu diajak bergabung.
- Masih banyak cara misterius lainnya yang elo ngga bakalan nyangka sebelumnya. Intinya elo jangan takut deh ngga ada yang merhatiin kinerja elo. Ini yang namanya personal branding. If you have a good brand, everybody would want a piece of you. Trust me in this.
Gwe pernah dapet bayaran Rp 50.000 untuk sebuah website flash. Gaji pertama gwe kerja kantoran beneran cuma Rp 1,5 juta. Gwe pernah kerja ngga digaji 6 bulan. Gwe pernah gajinya diturunkan karena antara CEO sama GM ngga sinkron (GM naikin, 2 bulan kemudian CEO turunin :P). Gwe pernah kerja senin sampai sabtu, dari jam 9 sampai jam 6 sore, for 8 months, and I was married and had a kid. Apakah gwe komplain? Damn hell yeah :P Tapi gwe tidak menurunkan standar gwe.
Waktu gwe kerja pertama kali sebagai instruktur dengan gaji 1,5 tadi, gwe selalu peringkat 1 atau 2 dari pernilaian peserta tentang cara ngajar, materi ngajar, komunikasi di dalam dan luar kelas dan berbagai poin-poin lainnya. I was straight A's (with a little B here and there hehehe). Ketika gwe resign, gaji gwe sudah satu level dibawah manager instruktur, surpassing other instructor yang bahkan ada yang sudah kerja 10 tahun lebih.
Walaupun gwe ngga digaji 6 bulan, tapi gwe melakukan yang terbaik untuk memenangkan tender dengan bolak-balik ngurus tender ke Cirebon, Tegal, Bali, dan menghasilkan dokumen tender dengan jumlah kertas lebih dari 5 rim (that's 2500++ sheets of paper!) dan terkadang masih di kantor jam 5 pagi, even on saturday and sunday, gelap-gelapan karena listrik gedung dimatikan kalau sudah lewat jam 6 sore, dan turun tangga dari lantai 12 karena lift sudah dimatikan.
Sekarang gwe tanya lagi: Have you give your best for your current company?
Connected links:







2 Comments:
nice posting gan
tulisannya membuatku semangat lagi :P
Gue pernah "eksperimen" ttg kerja keras ini.
seminggu nyantey di kantor, dan seminggu wara-wiri kemana2 + di tambah kerjaan rutin & project.
dan hasilnya memang BEDA BANGET
bukan secara finansial yak (dpt duit langsung) tapi sesuatu oportunity lain yang lebih besar :)
Post a Comment
Links to this post:
Create a Link
<< Home