Yup, jadi ceritanya saya kirim email ke Esquire Magazine Indonesia tentang nonton bareng, dan apparently I got invited. Jadi aku ambil tiketnya hari Jumat siang dan ternyata filmnya diputar hari Sabtu jam 10.00 pagi di Djakarta XXI. Shoot, jam segitu khan gwe les piano, jadilah gwe merelakan istriku jalan sama Valen, temenku.Hari sabtu pagi, ternyata si Valen bilang kalau dia ndak bisa ikut nonton, baru pulang jam 4 pagi katanya (ngapain hayoo :P). Wah, kesian sekali istriku kalo ndak jadi nonton. So, setelah pergumulan yang panjang, jadilah gwe pergi juga.
Ternyata, filmnya judulnya Kala. Katanya sih thriller movie. Okaylah gpp, asal bukan film horor. Tapi ternyata pas lihat goody bagsnya yang berisi notebook, di salah satu gambarnya ada "makhluk"nya. Lemes dah gwe. Yasudah lah dipasrahin saja. Sambil selonjor ke samping karena hand-rest kursinya bisa dinaikin, gwe prepare for the worst. (teriak-teriak maksudnya hehehe)
Tapi ternyata filmnya sangat lumayan. Settingnya benar-benar luar biasa. Entah itu jaman apa, tapi kesan oldiesnya kental banget. Sepertinya sih tahun-tahun 1940an yah, walau disana sini ndak keliatan ada tentara Belanda atau Jepang. Sepertinya setnya benar-benar dicari dengan serius. Gloomy and dark. Sempat terpikir untuk bikin "Tour Lokasi pembuatan film Kala" sekalian nginep semalam. That'll be spooky and great! :P
Nuansa dark-nya didukung oleh music ambience yang juga really good. Actually, di setengah film pertama gwe rada-rada tutup mata gwe (ngaku deh gwe) karena ngeri. Nie juga ngga kalah kenceng teriaknya hehehe. Pas di awal-awal gwe pikir just another horror movie yang kerjaannya ngaget-ngagetin orang doank, but I was wrong.
Ceritanya bagus sekali. Unbelievable. Gwe pikir kalau marketingnya serius, bisa tuh film Kala masuk Cannes atau Oscar sekalian. Sayang gwe ndak denger gaung film Kala dimana-mana, ndak seperti Nagabonar (jadi) 2.
Well, disini ndak ada spoiler bro, tapi I can rest assure you ndak bakalan nyesel ngeluarin uang buat nonton filmnya di bioskop. Semuanya top notch, dari settingnya, musiknya, efek spesialnya dan terutama skenario ceritanya. Well done Mr. Joko Anwar :)
Tapi di dalam film itu ada satu yang mengganjal. Waktu salah satu karakternya nelpon, dia disuruh nunggu. Nah disitu ada musik nada tunggu. Setelah saya cek, musik nada tunggu baru ada tahun 1984. Wah berarti yang ini kelewatan ya pak :)
PS: Foto di atas itu adalah gwe dengan Joko Anwar sang sutradara. Sama-sama kerennya yaks.
